Friday, October 20, 2006
Twilight Town malam itu terasa lebih dingin dari biasanya. Termasuk di taman, yang biasanya terlihat indah walaupun di malam hari, terlihat amat gelap. Di sana sepi, tak ada suara sedikitpun. Hanya ada seorang yang berada di sana, duduk sendirian di bangku taman. Dialah Roxas.
Saat itu, yang ada di kepala Roxas hanyalah kalimat, “Apa aku jahat?”. Dia terus teringat akan kejadian yang membuatnya terus berdiam diri hari itu. Seseorang telah berkata kalau ia jahat, bahkan ia adalah sahabat Roxas sendiri. Olette-lah yang mengatakannya.
Kemarin Roxas dan Olette masih mengobrol seperti biasa, masih terlihat akrab seperti hari-hari sebelumnya.
“Hari ini adalah hari ulang tahunku!” kata Olette, ceria seperti biasanya.
“A-apa? Ah, maaf Olette, aku tidak tahu!” jawab Roxas.
“Tidak apa-apa, Roxas! Aku memang belum pernah memberitahumu kan?” kata Olette, tersenyum.
“Um, yeah... Selamat ulang tahun!” kata Roxas, lalu menjabat tangan Olette.
“Terima kasih!” jawab Olette. “Ah iya, hampir lupa!” Olette kemudian mengambil sesuatu dari saku celananya. Sebuah kotak yang diikat dengan pita.
“Untukmu Roxas!” katanya, lalu menyerahkan kotak itu pada Roxas.
“Untukku? Wah, seharusnya aku yang memberimu hadiah, tapi malah aku dapat hadiah darimu. Terima kasih. Apa ini?”
“Tidak apa-apa. Bukalah.”
Roxas membuka pita yang mengikat kotak tersebut, lalu membuka kotak itu. Ternyata isinya sebuah gelang rajutan.
“Aku membuatnya sendiri!” ujar Olette.
“Benarkah? Hebat sekali!” kata Roxas kagum. Gelang rajutan buatan Olette menang bagus. Warnanya hijau dan putih yang cerah, seolah melambangkan perdamaian.
“Kupakaikan ya.” kata Olette.
Olette mengambil gelang itu dari kotaknya, meraih tangan kanan Roxas, dan memakaikan gelang itu di pergelangan tangan Roxas. Entah kenapa, saat itu wajah Roxas memerah. Baru kali ini Roxas berdua saja dengan seorang perempuan, bahkan sedekat ini.
“Nah, selesai!” ujar Olette, yang membuyarkan lamunan sejenak Roxas.
“Oh? Ah... Terima kasih...” kata Roxas, sedikit terbata-bata.
Olette pun menatap wajah Roxas.
“Wah, Roxas, wajahmu merah!” kata Olette, dengan nada sedikit menggodanya.
“A-apa? Aku... Aku tidak...”
“Ahahaha... Kau ini lucu!”
“Uh, jangan tertawa seperti itu!”
“Haha, Maaf Roxas!” rupanya Olette tertawa sampai menitikan air mata. “Ah iya, Roxas! Aku punya permintaan!”
“Apa itu?”
Olette lalu menggenggam kedua tangan Roxas, menatap wajah Roxas dengan tersenyum, yang membuat wajah Roxas kembali menjadi merah.
“Gelang ini adalah benda berhargaku. Aku membuatnya dengan susah payah. Namun, aku senang memberikannya sebagai hadiah untukmu, jadi kau bisa mengingatku. Aku menganggapnya sebagai tanda persahabatan kita. Jadi, aku hanya ingin kau berjanji, jagalah gelang ini dengan baik!”
Roxas diam sejenak, menatap tajam gelang yang kini terpasang di tangannya.
“...Baiklah. Aku janji.” jawabnya, dengan tersenyum.
“Terima kasih, Roxas. Aku tahu, kau tidak akan melanggar janjimu. Aku percaya padamu... Dan mungkin, jika gelang itu rusak, aku akan marah.” kata Olette, melepaskan genggamannya.
Tapi, kata-kata terakhir Olette bukan lagi sebuah kemungkinan, melainkan menjadi sebuah kenyataan.
Hari ini, di siang hari, Roxas tidak sengaja berpapasan dengan Seifer, yang saat itu terlihat sedang kesal, dan tampak marah-marah. Roxas ingat, minggu lalu ia mengalahkan Seifer di pertandingan Struggle. Seifer tidak terima ia kalah, dan selalu mengancam ingin membalas Roxas. Hal ini membuat Roxas terus menghindari Seifer. Tetapi sialnya, Roxas saat itu tepat berada di depan Seifer. Roxas berusaha untuk lari, namun Seifer menariknya.
“Lepaskan aku!” teriak Roxas.
“Jangan coba-coba untuk lari, Rucksack!” kata Seifer. Senyum sinis tersungging di bibirnya. “Saatnya pembalasan!”
Seifer menyerangnya tiba-tiba, dengan tangan kosong. Roxas yang terkejut ternyata sempat menghindar. Tak ada jalan lain, terpaksa ia bertarung dengan Seifer. Saat itu sepertinya ada yang aneh dengan serangan Seifer. Sepertinya hanya menyerang dengan membabi buta dan tidak terarah. Mungkin saja, karena hari itu dia sedang bad mood. Kesempatan terbuka bagi Roxas, tentu saja tak disia-siakannya. Roxas tidak terlalu pandai berkelahi tangan kosong, jadi ia terus menghindari serangan Seifer yang tidak beraturan itu, membuat Seifer kelelahan, dan akhirnya Seifer merasa terdesak. Tapi, ada satu hal yang tidak disangka oleh Roxas... Ternyata Seifer membawa pisau!
Seifer menyerang Roxas dengan pisau yang sedikit disembunyikan dengan telapak tangannya. Untung saja, Roxas sempat melihat pisau itu, dan ia sempat menghindar. Akan tetapi, pisau itu mengenai pergelangan tangan kanannya. Tetapi, tidak hanya membuat tangannya terluka, ternyata pisau itu juga mengenai gelang pemberian Olette... Dan gelang itupun terputus...
Roxas terjatuh karena menghindar. Gelangnya yang sudah terputus jatuh di sampingnya. Melihatnya membuat Roxas tampak sangat terkejut. Seifer kembali menyerang Roxas, sepertinya mau menusuknya. Namun Roxas menyadarinya. Ia sempat menendang tangan Seifer, membuat pisaunya terpental. Peluang baginya untuk kabur. Ia mengambil gelangnya dan secepatnya melarikan diri.
“Bagaimana ini?” Roxas bertanya-tanya dalam hati, sambil terus berlari. “Aku telah melanggar janjiku...”. Nafasnya mulai terengah. “Dia pasti marah...” Roxas menggenggam erat gelangnya dengan tangan kirinya. Darah mulai membasahi tangan kanannya.
Tiba-tiba Roxas berhenti mendadak. Matanya terbelalak karena terkejut, dan ia pun tidak bisa berkata apa-apa. Olette ada di hadapannya.
Ingin lari pun ia tidak bisa, karena kini kakinya agak gemetaran. Dan, sayangnya, tanpa sadar ia menjatuhkan gelangnya. Olette pun melihatnya, dan wajahnya memucat.
“Roxas, kau...” Olette tidak melanjutkan kalimatnya. Suaranya bergetar.
“A-aku...” Roxas pun tak bisa melanjutkan kalimatnya juga.
“Kau... Merusaknya... Kau tidak menepati janjimu...”
“Olette...”
“Roxas, kau jahat!”
Olette menangis, dan berlari meniggalkan Roxas sendirian. Roxas tidak sanggup untuk berteriak memanggilnya kembali, karena pasti ia tidak akan didengar, atau bahkan membuatnya semakin marah. Rasa bersalah kini memenuhi dirinya.
Sungguh, perkataan Olette itu sangat menusuk hatinya. Sampai saat ini pun masih terngiang di telinganya. Roxas menatap pergelangan tangannya yang kini dibalut perban dengan asal-asalan (ia membalutnya sendiri, dan ia menang tidak bisa membalut) sambil terus menggenggam gelangnya.
“Seandainya aku sempat melarikan diri dari Seifer... Seandainya aku tidak melayaninya... Ah, aku ini sungguh ceroboh... Semua... Salahku...” itulah yang ada di pikirannya saat ini. Hanya itu.
Tiba-tiba lamunan Roxas buyar, karena seseorang muncul dari belakang dan memeluk Roxas, sambil berkata, “Sendirian, Roxas sayang!”
Roxas sampai terlonjak kaget dibuatnya, nafasnya saja sampai tersengal. Ternyata Axel-lah yang muncul.
“Wah wah, tak perlu kaget sampai seperti itu, Roxas, aku hanya bercanda!” kata Axel santai.
“Yeah, jika kau serius tentu saja aku akan membunuhmu!” ujar Roxas kesal. “Saat ini aku tidak ingin diganggu, maka pergilah.
Raut wajah Axel berubah kesal.
“Oh? Jadi kau mengusirku?”
“Kalau sudah tahu, silakan pergi!”
“Huh, aku datang tanpa maksud apa-apa, kau malah mengusirku. Baiklah, kalau begitu, aku tidak akan pergi sebelum KAU BERTARUNG DENGANKU!!!”
Axel memunculkan apinya, mengelilingi tempat mereka berada sekarang. Tak ada celah bagi Roxas untuk lari. Axel terlihat sudah menggenggam senjatanya. Roxas pun menunculkan keybladenya: Kingdom Key.
Axel pun menyerang. Serangan pertama ia bisa mengangkisnya, namun tidak untuk yang kedua. Bagi Roxas saat itu, serangan Axel terasa amat berat, membuatnya kewalahan menghadapinya. Berkali-kali serangan Axel tepat mengenainya, ia tidak mampu menghindar, apalagi melawan. Ternyata dalam waktu singkat, Axel berhasil menumbangkan Roxas. Tubuh Roxas terkapar dengan penuh luka. Pakaiannya robek dimana-mana.
“Cu...kup... Axel... Aku... Menyerah...” rintih Roxas, sambil menghilangkan keybladenya.
Axel pun menghilangkan apinya. Axel merasa sangat tidak puas.
“Apa yang terjadi padamu, sampai kau jadi lemah seperti ini?” tanya Axel, dengan membelakangi Roxas. Tetapi Roxas tidak menjawabnya. Axel lalu berbalik, menoleh ke arah Roxas.
“Hei, Roxas!”
Roxas tidak mendengar Axel, juga tidak melihatnya. Bahkan ia tidak bisa melihat apa-apa; hanya ada kegelapan di sekelilingnya. Ia pingsan.
Tapi tak lama ia samar-samar mulai bisa mendengar sesuatu. Kesadarannya sudah mulai pulih. Roxas membuka matanya, dan yang pertama kali dilihat adalah punggung Axel yang tertimpa sinar matahari pagi.
Axel...?” kata Roxas, yang terdengar agak merintih. Ia merasakan sakit di seluruh tubuhnya.
Axel membalikan badannya.
“Oh, baguslah kau sudah sadar, Roxas!” ujar Axel. “Kau tahu, mengangkatmu kemari ternyata cukup melelahkan. Ternyata tubuhmu berat, Roxas. Huh, untung saja ada penginapan yang dekat.”
Roxas hanya terdiam. Tanpa menanggapi perkataan Axel, ia bertanya, “Siapa yang merawat luka-lukaku? Lalu, siapa yang mengganti bajuku?”
“Aku.” jawab Axel singkat.
“Apa??” Roxas kaget.
“Hei, tak perlu seperti itu kan? Kita ini sesama lelaki!”
“Ehm, okay. Er- terima kasih, Axel. Aku tak menyangka ternyata kau bisa mengobati luka.”
“Aku hanya mengobatimu asal-asalan, jadi maaf ya kalau lukamu nantinya bertambah parah.”
“Apa kau bilang!?”
“Bercanda. Roxas, ada masalah?”
“Apa? Er-tidak ada.”
“Bohong. Kau menyembunyikan sesuatu. Terlihat dari sikapmu. Kau juga tidak bisa bertarung kemarin.”
“Itu...”
“Ceritakan, Roxas!”
Roxas terdiam sejenak. Ia sedikit enggan menceritakannya, karena ia tidak mau mengungkitnya lagi. Tapi ia putuskan untuk menceritakannya pada Axel. Mulai dari saat Olette memberikan gelang itu, pertarungannya dengan Seifer yang menyebabkan gelang itu terputus, dan ketika Olette mengetahuinya dan berlari meninggalkannya.
“Dia egois sekali!” Axel berkata dengan nada mengejek. “Hanya karena masalah sepele itu, dia sampai marah.”
“Ini bukan masalah sepele, bodoh!” kata Roxas, sedikit marah mendengar kata-kata Axel. “Itu adalah benda berharganya! Dan aku sudah berjanji tidak akan merusaknya! Tapi, aku melanggarnya. Jelas saja kalau dia marah!”
“Tapi, itu kecelakaan kan?”
“Janji tetaplah janji, Axel!”
Axel terdiam. Dia merasa agak khawatir pada Roxas, setelah mendengar perkataan Roxas barusan. Ia melihat wajah Roxas terlihat amat kesal, dan matanya memerah seperti akan menangis. Tapi tak satupun butiran air mata yang jatuh di pipinya. Ia tahu, Roxas berusaha menahannya.
“Aku harus menemuinya. Kalau bisa, hari ini juga.” kata Roxas.
Axel terkejut mendengarnya.
“Jangan! Pikirkan kondisi tubuhmu sekarang, bodoh! Dengan luka yang belum pulih, kau hendak keluar?” ujar Axel, setengah berteriak.
“Axel, aku tidak mau ini terus berlanjut!”
“Bukan berarti kau harus memaksakan diri kan!?”
“Aku tahu, tapi aku...”
“ROXAS!!!”
Roxas benar-benar terkejut Axel berteriak seperti itu. Wajah Axel tampak sangat kesal.
“Kalau itu maumu, silakan pergi! Tapi aku tidak mau tahu apa yang akan terjadi padamu kalau kau memaksakan diri! Jangan harap aku mau menolongmu lagi!”
Roxas terdiam. Kata-kata Axel menyadarkan Roxas. Ternyata Axel sungguh mengkhawatirkannya.
“Kau benar, Axel. Pergi sekarang hanya akan memperburuk konsidiku. Aku tidak akan pergi sekarang.” kata Roxas, sambil tersenyum. Axel hanya memalingkan wajahnya.
“Axel...” kata Roxas dengan suara pelan.
“Apa?”
“Ternyata kau ini baik ya.”
“A-apa? Ba-baik katamu?” Axel menjawabnya dengan terbata-bata dan rona merah muncul di wajahnya.
“Ya, kau baik. Padahal kau selalu menantangku untuk bertarung, tapi... Kali ini kau menolongku, dan kau begitu memperhatikan kondisiku. Terima kasih banyak.”
Axel benar-benar tersipu mendengarnya.
“A-aku... Jika aku tidak membantumu, bisa-bisa aku kehilangan lawan bertarungku. Itu saja!” Axel mengarang alasan. Roxas terkikik mendengarnya.
“Jangan tertawa bodoh!”
“Maaf, aku tidak pernah melihatmu bersikap lucu seperti ini sebelumnya. Ahahah...”
“Huh! Terserah kau!”
Seharian itu Axel menemani Roxas. Sampai malam harinya, Roxas berkata kalau ia merasa sudah baikan, dan akan menemui Olette esok harinya, seorang diri. Axel tentu saja sempat mencegahnya, tapi setelah berkali-kali Roxas meyakinkan Axel, akhirnya Axel menyerah juga.
Esok harinya merupakan hari yang tak terduga. Twilight Town diselimuti awan kelam. Terdengar suara petir samar-samar dari dalam penginapan. Mungkin akan terjadi hujan lebat, atau bahkan badai.
“Kau serius mau menemuinya sekarang? Cuaca sangat buruk sekarang. Terlalu berbahaya!” ujar Axel khawatir.
“Tenang saja, Axel. Aku akan segera kembali.” jawab Roxas mantap.
“Bagaimana keadaanmu?”
“Baik.”
“Tak bisa dibilang baik, Roxas. Segera kembali jika kondisimu tidak memungkinkan.”
“Aku mengerti.”
Axel mengantar Roxas sampai pintu depan.
“Good luck!” kata Axel. Roxas membalasnya dengan anggukan kepalanya.
Roxas berlari menuju tempatnya biasa berkumpul bersama Hayner, Pence, dan Olette. Hanya tempat itu yang ada di pikirannya saat itu.
Roxas tiba di sana. Ternyata Hayner dan Pence ada di situ. Olette tidak ada.
“Roxas!” kata Hayner dan Pence bersamaan.
“Oh, hai, Hayner. Hai, Pence.” sapa Roxas.
“Kenapa tubuhmu penuh luka begitu?” tanya Hayner khawatir.
“Bukan saatnya bertanya begitu!” jawab Roxas tegaas. “Mana Olette?”
Mendengar pertanyaan Roxas, Hayner dan Pence saling berpadangan. Raut wajah mereka tampak khawatir.
“Kau tahu, Roxas, kami tidak bertemu dengan Olette sejak 2 hari yang lalu.” jawab Hayner. Roxas terkejut.
“Benarkah itu? Sama sekali tidak ada kabar?” tanya Roxas.
“Ya.” jawab Pence. “Kau juga, Roxas.”
“Aku?”
“Ya, kau!” kata Hayner. “Kau juga, selama 2 hari ini kau juga tidak kemari. Ada masalah dengan kalian?”
Roxas tidak segera menjawab. Ia baru ingat, Hayner dan Pence tidak tahu masalah antara dia dengan Olette. Rasanya dia enggan menceritakannya. Akhirnya Roxas hanya menggelengkan kepala, pura-pura tidak tahu.
“Tapi sikapmu sangat aneh. Kalian sama-sama menghilang sejak 2 hari yang lalu. Dan terihat dari wajahmu, kau seperti sedang menyembunyikan sesuatu.” ujar Hayner yang tidak percaya.
“Aku...”
BLAAARRR!!
Suara petir menyambar, menyadarkan Roxas kalau ia tidak bisa berlama-lama mengobrol di sana, tak punya banyak waktu. Ia harus menemukan Olette sebelum hujan turun.
“Maaf teman, aku ada perlu.” kata Roxas, yang terdengar terburu-buru. Ia pun segera keluar dari tempat itu.
“Hei, Roxas!” Hayner memanggil Roxas, namun Roxas cepat sekali perginya.
Ternyata Olette tak ada di mana pun tempat biasanya dia berada. Di rumahnya, di sekolah, stasiun, pertokoan, maupun taman. Roxas tidak tahu lagi harus mencari ke mana. Ia bertanya pada orang lain pun, namun mereka semua berkata tidak pernah melihatnya dalam 2 hari ini.
Roxas mulai kelelahan. Luka di tubuhnya pun mulai terasa sakit. Ia pun duduk sebentar di bangku taman, bangku yang ia duduki ketika ia sendirian di malam hari, pada hari saat terjadinya konflik di antara mereka.
Roxas menatap langit yang gelap. Suara petir menyambar terdengar semakin keras.. Ia hampir putus asa, tidak tahu lagi harus mencari ke mana.
Pandangan Roxas beralih menatap ke stasiun. Ia mengingat saat-saat ia bersama Olette, Hayner, dan Pence. Mereka berempat sering bepergian dengan kereta, tanpa tujuan, hanya untuk bermain-main. Mereka selalu bercanda bersama, melewati masalah bersama, menikmati kesenangan bersama...
Tiba-tiba pandangan Roxas tertuju ke sesuatu yang berada di belakang stasiun. Sunset Hill.
“Ya! Bukit!!” kata Roxas, wajahnya kembali berseri.
Ternyata ia memang melupakan suatu tempat. Bukit di belakang stasiun. Olette pernah bilang, ia sering datang ke bukit itu jika ia sedang sedih. Katanya, dia bisa melihat seluruh Twilight Town dari sana, dan sangat indah, membuat rasa sedihnya perlahan menghilang.
Roxas berlari menuju bukit. Sementara itu hujan rintik-rintik mulai turun, dan langit semakin gelap saja.
“Aku harus cepat...” gumamnya. “Dia pasti di puncak bukit...”
Belum ia sampai di puncak, ia kelelahan. Ditambah lagi tubuhnya memang sedang lemah. Ia tidak bisa berlari cepat lagi, apalagi di jalan yang menanjak. Namun, ia tahu, tak ada waktu untuk berhenti istirahat...
Roxas berhasil sampai di bukit. Tubuhnya basah karena keringat dan hujan. Rasanya ia tidak sanggup untuk berdiri lagi. Luka-lukanya kini mulai terasa menusuk tubuhnya. Ia jatuh berlutut, terengah-engah.
Roxas menatap ke depan. Ternyata benar, Olette ada di depannya, masih cukup jauh darinya, duduk di bawah pohon sendirian. Sepertinya ia tak peduli hujan yang mulai turun lebih deras dan suara petir yang menggelegar.
Tetapi, melihat Olette, Roxas jadi ragu untuk menghampirinya. Ia takut, kalau ia akan membuat Olette marah dengan menampakkan diri di hadapannya.
“Ayo Roxas... Beranikan dirimu...” batin Roxas. Ia menempelkan tangannya di dadanya. Lalu ia berdiri, dengan terhuyung. Lalu ia maju selangkah.
“Jangan takut, Roxas... Dia tak akan marah...” ia membatin lagi, berusaha menguatkan dirinya. Roxas memantapkan langkahnya, berjalan mendekati Olette, sampai jarak yang cukup baginya untuk memanggilnya. Roxas mengepalkan tangannya, berusaha berani untuk menyebut namanya.
“Olette...”
Olette terkejut mendengar ada suara orang yang memanggilnya, di belakangnya. Olette pun berdiri dan menoleh ke belakang. Roxas di hadapannya, tersenyum kecil dengan wajahnya yang menunjukkan kelelahan sekaligus kebimbangan. Melihat Roxas, wajah Olette menjadi pucat. Mereka pun saling memandang.
“Ro... Xas...” kata Olette pelan.
“Olette, aku...”
BLAAAARRR!!!!
“Kyaaaaa!!!”
Petir menyambar sangat dekat dengan mereka. Mereka menutupi wajah mereka dengan tangan. Mereka tidak tahu jika ternyata petir itu menyambar pohon besar yang berada di samping Olette, membuat batang pohon itu patah. Celakanya, angin yang kini bertiup kencang, membuat batang pohon itu terjatuh ke samping, tepat di atas tempat Olette berdiri...
Olette tidak menyadarinya, karena masih menutup matanya. Roxas membuka matanya terlebih dahulu. Roxas menyadari, batang pohon yang besar akan jatuh menimpa Olette...
“Olette, lari!!!”
Teriakan Roxas menyadarkan Olette. Olette membuka matanya. Sesaat Olette bingung, namun dia pun menoleh ke atas, dan melihat sebuah batang pohon besar kini di atas kepalanya, makin lama makin dekat dengannya.
“Aa... Aaa.......” Olette ternyata sangat ketakutan, hingga kakinya gemetaran, dan tak bisa menggerakan kakinya.
Tak ada jalan lain. Dengan tubuh yang masih lemah, Roxas mencoba untuk berlari, berharap masih sempat untuk menolongnya. Ini pertaruhan dengan waktu, batang pohon yang jatuh itu sudah dekat dengan Olette.
“Sial! Bertahanlah, tubuhku!!” Roxas berteriak dalam hati. Ia berusaha untuk mempercepat larinya, sampai membuat luka di kakinya terbuka. Akhirnya, Roxas kini berada tepat di hadapan Olette. Tetapi batang pohon itu sudah sampai kira-kira 3 meter di atas mereka. Dan di saat terakhir, Roxas melompat, mendorong tubuh Olette.
Olette tertolong. Kini batang pohon itu telah menyentuh tanah, terjatuh dengan bunyi yang sangat keras. Tetapi, masalah belumlah selesai. Di depan mereka ternyata adalah ujung bukit, sementara Roxas tidak sempat menghentikan laju tubuhnya, karena ia tadi melompat.
Dalam waktu yang sempit itu, Roxas membuat suatu keputusan.
“Olette harus selamat...” batinnya. “Tak ada jalan lain...”
Dengan sisa tenaganya, Roxas berusaha membalikkan tubuhnya, lalu melempar tubuh Olette hingga menabrak batang pohon yang jatuh tadi. Olette selamat. Namun, Roxas akhirnya terjatuh dari bukit yang tinggi itu...
“Olette... Maafkan aku...” batin Roxas, yang kini tubuhnya perlahan lenyap dari pandangan...
“Ro... Xas...” kata Olette, dengan suara yang bergetar. Pandangannya menerawang, mendengar suara tubuh Roxas yang terjatuh membentur tanah. Sungguh, ia tidak berani melihatnya.
Kini suara itu tidak terdengar lagi. Hanya terdengar suara hujan yang kini sudah sangat deras, juga suara angin kencang berhembus dan petir yang menggelegar. Dengan tubuh gemetar, Olette memberanikan diri melihat ke bawah. Jauh di bawah sana, di kaki bukit, tubuh Roxas tergeletak tak berdaya, berlumuran darah dan tanah yang basah...
“Ti-tidak... Mungkin...” Olette menagis. “Roxaaaaass!!”
Air mata dan hujan membasahi wajah Olette. Ia mengepalkan tangannya, lalu memukul tanah berulang kali. Ia tampak sangat kacau.
“Tunggu... Roxas... Aku akan... Menyusulmu...”
Dengan tubuh yang masih gemetar dan kedinginan, Olette hendak turun ke kaki bukit yang curam itu. Tapi sebelum ia melakukannya, seseorang menepuk bahunya, sambil berkata, “Biar aku saja!”
Ternyata orang itu adalah Axel. Axel segera melompat turun ke kaki bukit. Dengan sekali lompatan ia pun sampai di sana. Axel mengangkat tubuh Roxas. Sekelebat asap hitam lalu muncul di hadapannya. Axel berjalan masuk ke dalamnya. Olette yang melihatnya pun kaget dan keheranan.
“Apa...? Dia hi-“
Tapi sebelum Olette menyelesaikan kalimatnya, Axel muncul di belakang Olette dari asap hitam itu lagi.
Kau...?” tanya Olette yang keheranan. “Bagaimana kau bisa...”
“Sekarang bukan saatnya untuk membicarakan itu!” ujar Axel tegas. “Kita harus bawa Roxas ke rumah sakit sekarang juga!”
Olette mengangguk.
“Baik!” jawab Olette. “Ikuti aku. Untunglah, rumah sakit tidak jauh dari sini.”
Roxas segera dibawa ke ruang perawatan setibanya di sana. Luka Roxas kali ini tampaknya amat parah. Axel dan Olette hanya bisa menunggu dengan penuh rasa khawatir di depan ruang perawatan.
“Maaf...” kata Olette, memecahkan heningnya suasana. Suaranya masih terdengar bergetar. “Kau ini siapa?”
“Namaku Axel. “jawab Axel. “Teman Roxas.”
“Namaku Olette.” kata Olette ramah. Sekilas senyum tampak di wajahnya, tetapi dalam sekejap sirna, digantikan oleh wajah sedihnya seperti sebelumnya.
“Olette, dengarkan aku. Ini penjelasan soal gelang pemberianmu itu.” Ujar Axel.
Olette menoleh tiba-tiba ke arah Axel, sedikit terkejut mendengarnya.
“Kau tahu... Tentang itu...?”
“Yeah, Roxas bercerita padaku kemarin.”
“Kau mau bilang apa?”
“Roxas memutuskan gelang itu karena suatu kecelaakaan.”
“Kecelakaan? Maksudmu...?”
“Ya. Roxas terpaksa bertarung dengan seseorang bernama Seifer. Dia tak sempat kabur. Dan ternyata, Seifer membawa sebilah pisau, dan saat Roxas menghindar, tangannya terkena pisau, dan... Yeah, gelang itu terputus.”
Olette terperangah mendengar cerita Axel.
“Benarkah...?” Olette bertanya dengan suara pelan sekali.
“Ya. Kau lihat kan, pergelangan tangan kanannya terluka.”
“Ya, aku lihat. Ah-tunggu!” Olette sepertinya menyadari sesuatu yang penting.
“Ada apa?” tanya Axel bingung.
“Kalau hanya luka di tangan itu yang ia dapatkan saat bertarung dengan Seifer, bagaimana dengan lukanya yang lain? Mengapa sekujur tubuhnya penuh luka?”
Axel tidak langsung menanggapi pertanyaan Olette. Melihat wajah Olette, Axel jadi ragu untuk menjawabnya.
“Itu...”
“Itu apa!?”
“Aku bertarung dengannya malam harinya, dan itu... Adalah bekas pertarunganku dengannya....”
Mendengar jawaban Axel, Olette tiba-tiba marah.
“KAU!!” Olette berteriak sambil bangkit dari kursinya. “Kau bilang, kau ini teman Roxas! Lalu kenapa kau bertarung dengannya sampai membuatnya seperti itu!?”
“Aku... Yah, aku ini sebenarnya...” wajah Axel tampak muram. “...Hanya lawan bertarungnya saja... Tak lebih dari itu...” jawab Axel, sambil menundukan kepalanya. Rasanya berat sekali bagi Axel untuk mengatakannya. Mereka adalah teman baik, itu benar. Namun perbedaan pendapat dan sifat mereka, membuat mereka sering bertengkar.
“Ah, sudahlah! Itu tidak penting sekarang...” lanjut Olette, kembali duduk di bangkunya. “Rupanya... Aku ini yang terlalu cepat marah... Aku sungguh kaget melihat gelang pemberianku terputus... Padahal itu benda berhargaku... Aku... jadi tidak melihat keadaan Roxas saat itu...”
Axel menatap Olette dengan pandangan khawatir. Olette tampak sangat menyesal, dan itu membuatnya terlihat kacau. Tapi Axel sedikit lega, karena sepertinya Olette sudah memaafkan Roxas.
“Axel, ini salahku!!” kata Olette tiba-tiba. Air mata menetes di pipinya. “Seandainya aku tidak terlalu cepan marah... Seandainya aku tidak seegois ini... Mungkin Roxas tidak akan...”
“Menyesal tidak ada gunanya, Olette.” ujar Axel dengan tegas. “Sesuatu yang sudah terjadi tidak bisa kau tarik kembali, walaupun kau berusaha sampai akhir hidupmu!”
Olette terdiam mendengarnya. Benar. Memangnya kenyataan bisa berubah kalau ia menyesal? Tentu tidak. Olette kini sudah lebih tenang. Ia sudah mulai bisa mengontrol emosinya.
“Kita... Berharap saja, Roxas bisa diselamatkan...” kata Olette. Axel menggangguk.
Dokter keluar dari ruang perawatan Roxas. Wajahnya terlihat serius, membuat siapa saja akan merasa tegang jika menatapnya.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Olette cemas.
Dokter diam sejenak, seperti hendak ingin menyusun kata-kata untuk disampaikan.
“Kondisinya cukup parah. Ia mengalami patah tulang di tangan kiri dan kaki kanannya. Ia juga mengalami cedera bahu yang serius akibat kerasnya benturan. Lalu, yang jadi masalah adalah...”
Dokter terdiam. Axel dan Olette bergidik. Mendengar kata ‘masalah’ saja sudah membuat mereka merasa takut. Mereka sampai tidak bisa mengeluarkan suara.
“Ia mengalami kerusakan saraf, maka hampir dipastikan kalau ia tidak akan bisa melihat lagi.”
Mata Olette terbelalak. Wajahnya terlihat shock, ia mundur beberapa langkah sampai menabrak Axel. Axel pun memeluknya, berusaha menenangkannya, walaupun wajah Axel sendiri juga tampak pucat.
“Selain itu...” lanjut Dokter. Kali ini wajahnya terlihat lebih suram, terlihat kalau kabar buruk akan terucap dari mulutnya. Olette terlihat tak sanggup untuk mendengarnya. Ia menutup telinganya, takut untuk mendengarnya.
“Maaf, aku harus mengatakan ini...” suara Dokter terdengar lebih berat dari sebelumnya. “Sebelum ini, tubuhnya sudah sangat lemah akibat luka yang dideritanya... Dan lagi, dia mengalami pendarahan serius di kepalanya, jadi... Aku takut kalau tubuhnya tidak bisa bertahan, dia akan...”
Axel dan Olette tahu apa yang dimaksud oleh Dokter.
“Yang benar saja!!” kata Olette agak berteriak. Tanggannya mencengkram tangan Dokter, tampak gemetaran. “Tolong, katakan kalau ini hanya lelucon...”
“Sayang sekali, Nona, tapi kemungkinan itu tetap ada...” kata Dokter sambil melepaskan cengkraman tangan Olette. “Walaupun begitu, kami usahakan yang terbaik untuknya.”
Wajah Olette tertunduk. Ia tak tahu harus berkata apalagi. Ia sudah hampir putus asa.
“Kalian sudah boleh menjenguknya sekarang. Namun, kesadarannya masih belum pulih.” kata Dokter. “Aku permisi dulu. Semoga Roxas bisa bertahan...”
Dokter meninggalkan mereka berdua, berjalan menuju koridor.
Axel, yang dari tadi diam saja, kini tampak kesal pada dirinya sendiri.
“Kenapa waktu itu aku harus bertarung dengan Roxas...?” batin Axel. Kini ia juga merasa, kalau ia juga menjadi penyebab Roxas mengalami hal seperti ini.
“Olette, maafkan aku... Kini aku tahu bagaimana rasanya penyesalan yang amat mendalam itu... Rasanya ingin menarik kembali apa yang telah kulakunan, ingin membalikkan kenyataan...” kata Axel dengan suara yang pelan sekali. Tentu saja Olette tidak mendengarnya. Olette masih terdiam, bersandar pada tembok, dan pandangannya menerawang jauh.
Tiba-tiba Olette berkata, “Dia... Tersenyum...”
Axel menoleh.
“Apa maksudmu...?” tanya Axel heran.Olette kembali meneteskan air mata.
“Sesaat... Sebelum dia jatuh... Dia... Tersenyum padaku...”
Axel terdengar serius mendengarkan Olette bicara.
“Axel... Mengapa dia melakukannya... Apakah... Pengorbanannya... Sungguh-sungguh... Demi aku...? Demi diriku... Yang bodoh ini...?”
“Olette, dari tadi kau hanya menyalahkan diri, aku bosan mendengarnya!” ujar Axel. “Tapi, dia melakukan itu karena... Kau sangat berharga baginya. Maka, jangan kau buat pengorbanannya menjadi sia-sia.”
Olette terdiam lagi.
“Lebih baik kita masuk dan melihat keadaan Roxas sekarang.” kata Axel. Axel menggandeng tangan Olette, lalu membuka pintu dengan perlahan. Di sana, Roxas terbaring lemah tak sadarkan diri. Hampir seluruh tubuhnya, dan juga matanya, dibalut perban.
“Roxas...” kata Olette, lalu melepaskan tangannya dari tangan Axel, berjalan cepat menuju sisi tempat tidur Roxas. Olette menatap sedih wajah Roxas yang pucat. Olette menggengam tangan Roxas yang dingin.
“Roxas, aku... Aku ingin minta maaf... Aku... Bukan hanya salah sangka padamu, tetapi juga membuatmu begini... Aku...........”
Olette tak melanjutkan kata-katanya. Kini air matanya mengucur deras, membasahi tangannya dan tangan Roxas. Axel yang kini berada di samping Olette, hanya diam sambil memandang Roxas dengan wajah yang tampak menyesal, sampai ia berbisik, “Roxas... Maafkan aku....”
Axel lalu berbalik, dan melepas jubah hitamnya yang basah, dan menggantungkannya di balik pintu.
“Kau sebaiknya berganti pakaian, Olette. Di dalam lemari sepertinya ada pakaian.” ujar Axel.
Olette mengangguk, ia berdiri. Sebelum meninggalkan Roxas, Olette menatapnya, tersenyum kecil. lalu mencium dahi Roxas. Olette menuju ke lemari, dan ternyata memang ada pakaian. Olette segera menuju ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya yang juga basah.
Axel lalu duduk di sofa, merenung.
“Kenapa aku sedih?” batin Axel. Kepalanya tertunduk. “Aku... Aku tidak punya hati. Kenapa aku bisa merasakan sedih, marah, dan menyesal? Aku tidak mengerti... Roxas, jawab aku...”
Axel lalu menoleh ke arah Roxas.
“Roxas, aku lelah sekali... Izinkan aku tidur...”
Tak lama kemudian Axel tertidur. Memang, dari tadi Axel tampak sangat kelelahan.
Olette baru saja keluar dari kamar mandi. Ia melihat Axel tertidur di sofa. Hari itu, ia akan menginap di rumah sakit, menjaga Roxas. Olette pun menyiapkan minuman. Dan ketika itulah, Olette mendengar seseorang memanggilnya.
“O...Lette... “
Olette terkejut. Itu suara Roxas!
“Olette... Kau... Di situ...?”
“Roxas!”
Olette meninggalkan cangkirnya, berjalan cepat menuju tempat tidur Roxas. Dilihatnya Roxas sudah sadar. Olette tersenyum, wajahnya tampak lega.
“Olette?” kata Roxas, merintih.
“Ya, Roxas! Aku di sini!” kata Olette. Olette kembali menangis. Dilihatnya Roxas juga tersenyum, mengetahui Olette ada di sampingnya. “Roxas, aku... Maaf-“
“Sudahlah, Olette. Lupakan kejadian itu...” kata Roxas, sambil meraba wajah Olette, mengusap air matanya. “Akulah yang tidak bertanggung jawab, sampai merusak benda berhargamu. Aku telah melanggar janji. Akulah yang harus minta maaf.”
“Tapi...”
“Olette, sudahlah...”
“Tapi, kau sampai seperti ini...”
“Aku tidak apa-apa, Olette, jangan terlalu kau pikirkan. Aku masih bisa bertahan, kurasa. Maka, janganlah berputus asa.”
Mendengar ini Olette sangat terharu. Roxas ternyata tidak marah padanya... Tiba-tiba Olette memeluk Roxas...
“O-Olette?” kata Roxas. Wajahnya merona merah, seperti sebelumnya, saat Olette memakaikan gelangnya.
“Roxas, aku senang sekali, aku masih bisa melihatmu, masih bisa bicara denganmu....”
“Er... Yeah, terima kasih, Olette... Aku juga... Ng, Olette...”
“...Ya?”
“Sakit...”
“Ah!”
Olette buru-buru melepaskan pelukannya.
“Ma-maaf Roxas!” Olette sedikit kaget.
“Tidak apa-apa.” jawab Roxas, tersenyum. “Olette, kau sendiri?”
“Tidak, aku bersama Axel. Dia sedang tertidur di sofa.”
“Oh, sayang sekali... Padahal aku ingin bicara dengannya...”
“Axel orang yang baik. Walaupun dia bilang dia sering bertarung denganmu, namun dia mau menolongmu, dan berkali-kali membuatku tegar saat kesedihan menyelimutiku...”
“Dia memang baik....”
Sesaat wajah Roxas terlihat muram, seperti sedang memikirkan sesuatu yang membuatnya sedih.
“Roxas?” tanya Olette keheranan.
“Ah-Tidak...” jawab Roxas buru-buru. “Ng, rasanya sayang sekali, ya...”
“Apa?”
“Aku ingin melihat wajahmu.”
Olette terdiam. Ia baru ingat, Roxas hampir dipastikan tidak akan bisa melihat lagi. Mungkin Roxas sudah tahu hal ini.
“Roxas, asalkan kau punya hati, kau pasti bisa melihatku, kapanpun.”
Wajah Roxas kembali terlihat muram.
“Hati... ya...?” kata Roxas pelan. Sekilas terlihat senyum pahit di wajah Roxas. Roxas adalah Nobody. Tentu saja, ia tidak punya hati. Baginya, Olette tak terlihat sama sekali.
Malam itu Olette mengobrol cukup lama dengan Roxas. Dan mereka sepakat untuk tidak mengungkit-ungkit lagi kejadian itu, dan tidak saling menyalahkan diri. Sampai waktu tengah malam, Olette tertidur di kursi di sebelah tempat tidur Roxas. Tetapi, Roxas tidak bisa tidur. Kini ia merasakan sakit di seluruh tubuhnya.
“Maaf, Olette...” kata Roxas dalam hati. Ia tersenyum pahit. “Walaupun kubilang aku tidak apa-apa, tapi... Kurasa, aku tidak bisa bertahan lagi...”
“Aku tahu apa yang kau pikirkan, Roxas.”
Roxas terkejut. Itu suara Axel. Ternyata ia sudah terbangun.
“Kau pasti berpikir kalau kau sudah tak mampu bertahan. Oh, Roxas, apa kau mau berhenti sampai sini?” kata Axel. Suaranya terdengar berat.
Roxas sedikit terkejut karena apa yang dikatakan Axel persis seperti apa yang dipikirkannya barusan.
“Maaf Axel, tapi memang itulah yang kurasakan...”
Axel berjalan menuju tempat tidur Roxas, melewati Olette yang tertidur. Axel lalu menggenggam tangan Roxas. Tangannya terasa amat dingin.
“Roxas, kau...” Axel tidak melanjutkan kata-katanya. Wajahnya tampak pucat.
“Begitulah, Axel...” kata Roxas, yang suaranya terdengar kalau ia menahan sakit. “Mungkin tak lama lagi... Aku akan menghilang...”
“Roxas! Jangan berkata seperti itu!”
“Axel, aku tahu ini berat, tapi... Itulah kenyataannya, aku tak sanggup lagi...”
“Bodoh! Usahaku akan sia-sia kalau kau sampai menghilang!”
“Usahamu tidak sia-sia, Axel... Buktinya kau berhasil menolongku... Dan juga Olette... Aku harus berterima kasih padamu... Tapi, mungkin sudah takdirku, aku harus berakhir sampai di sini...”
“Roxas, kalau kau berkata seperti itu lagi, aku...”
Tiba-tiba Roxas menggenggam tangan Axel.
“Tolong, sampaikan pesan terakhirku pada Olette... Katakan kalau... Aku senang bisa mengenalnya, senang bisa menghabiskan waktu bersamanya.. Juga bersama yang lain... Gelang pemberiannya... Akan kubawa selalu... Dan katakan kalau... Aku... Sayang pada... Aahh!!”
“Roxas!!”
Roxas melepas genggamannya, lalu memegangi kepalanya, yang terasa mau pecah. Tak hanya itu, dadanya juga terasa amat sakit. Wajahnya berkeringat.
“Maaf, Axel... Kurasa... Sekaranglah saatnya... Kita berpisah...” kata Roxas, merintih.
“Roxas, jangan!”
Tetapi Roxas hanya tersenyum.
“Selamat tinggal, Axel... Aku... Akan kembali... Ke kegelapan....”
Asap hitam muncul di sekeliling Roxas. Tubuh Roxas seperti ditelan asap hitam itu, perlahan ia menghilang.
“Tidak!! Roxas!!”
Axel berusaha meraih Roxas, namun sekeras apapun usaha Axel, ia tak bisa menyentuhnya... Tubuh Roxas pun akhirnya lenyap, tepat di hadapannya...
Malam itu sungguh gelap sekali, seakan kegelapan malam itu datang untuk menjemput Roxas. Axel pun berdiri, terdiam. Wajahnya tertunduk.
“Roxas... Menghilang... Begitu saja...?” kata Axel, yang suaranya terdengar mendesah. Dan, mungkin untuk pertama kalinya, air mata kini membasahi wajah Axel...
Olette terbangun di pagi harinya. Dan, betapa terkejutnya Olette. Roxas dan Axel tidak ada di sana. Terutama Roxas.
“ROXAS!!! AXEL!!!” teriak Olette. Wajahnya pucat, ia merasa ketakutan. Tiba-tiba ia melihat sebuah kertas di atas tempat tidur Roxas. Ia mengambilnya, dan membacanya.
Olette, maaf, kau pasti kaget melihat aku dan Roxas tidak ada di sini. Ini mungkin akan sulit dipercaya, tapi... Kini Roxas telah menghilang, menuju tempat yang jauh, yang tak terbayangkan olehmu. Aku juga minta maaf telah meninggalkanmu. Roxas juga minta maaf padamu. Aku ingin menyampaikan pesan terakhir Roxas padamu. Roxas selalu menyayangimu, sampai kapanpun. Mengingatmu membuatnya selalu merasa bahagia. Ia tak ingin kehilanganmu. Tapi, seperti yang kubilang, sesuatu yang telah terjadi tak bisa ditarik kembali. Bukan kemauan Roxas untuk meninggalkanmu seperti ini. Tapi, ini adalah takdir yang mengikatnya. Walaupun begitu, Roxas tidak mengatakan kata-kata perpisahan padamu. Ia tak ingin meninggalkanmu, ingin selalu bersamamu, tak ingin kehilanganmu. Jangan jadikan ini perpisahan. Perpisahan hanyalah membuat hatimu terasa pedih. Sekali lagi, aku minta maaf.
Axel
Olette bagaikan tersambar petir membacanya. Wajahnya sudah sangat pucat, ia menutup mulutnya dengan tangannya. Satu hal yang ia tahu: Roxas telah tiada. Ia sangat shock, sampai akhirnya, ia merasa berkunang-kunang, dan ia pun ambruk ke lantai.
Olette benar-benar sangat shock, begitu pula dokter di rumah sakit. Akhirnya dokter pun angkat tangan mengenai masalah ini, karena bagi mereka, tentunya Roxas menghilang adalah hal yang sangat aneh.
Olette butuh waktu berhari-hari untuk menenangkan pikirannya. Selama itu, ia tidak bicara pada seorangpun. Di pikirannya selalu hanya ada Roxas. Tak ada yang lain. Dan hatinya selalu terasa tertusuk setiap kali memikirkannya... Sampai akhirnya Olette berani meraih pena dan buku hariannya, untuk menggambarkan pikirannya dalam bentuk tulisan...
Untukmu yang berada jauh di sana
Kau adalah anginku
Angin yang selalu menghembuskan keceriaan padaku
Di saat hujan lebat turun, bahkan badai sekalipun
Untukmu yang berkata selalu menyayangiku
Apakah aku tak bisa merasakan hangatnya nafasmu?
Haruskah aku menagis karenanya?
Wajarkah jika aku berteriak karenanya?
Ya, aku menangis
Akupun berteriak
Kau menghilang begitu saja
Tanpa mengajakku, aku ingin menyusulmu
Tapi
Angin tak bisa dikendarai
Langit tak bisa ditapaki
Burung-burung tak kuasa membawaku
Kupikir, tak ada sesuatu yang membawaku dekat denganmu
Ternyata hatiku bisa menolongku
Aku bisa merasakanmu, kembali membelaiku
Seolah kita berdiri bersebelahan
Aku merasa, nafasmu dan detak jantungmu terdengar
Keras, dan semakin jelas
Kini ku tahu, aku masih bisa memelukmu
Sebab, jauh di dalam hatiku, dirimu menantiku
Olette merasa sangat mengantuk, kepalanya sudah terasa amat berat. Ia tertidur di kursinya, kepalanya terkulai di mejanya. Sepertinya ia bermimpi sesuatu, karena ia menggumam dalam tidurnya.
“Roxas, aku mencintaimu...”
***The End***
maaf jelek... ^^;
Author: Kadaj » Comments: